Thursday, November 8, 2018

History

1:07 PM 2 Comments







Kau adalah sebuah kenangan yang tak perlu dibuang sebab kau bukan sebuah barang.

Kau adalah pengalaman traumatis, tiada henti membuat hati meringis namun menyisakan sebuah pembelajaran, ilmu humanis.

Kau serupa pangeran kegelapan, kedatanganmu mengharukan. Kepergianmu membingungkan.

Cintamu bagai solusi ditengah konflik pelik. Kata-katamu bagai angin segar tengah matahari terik.

Saat  aku sedang kelut, akankah kau datang untuk memeluk?

Bogor, 20 agustus 2015

****


Bak!

Nada menutup buku merahnya, Menghempaskan napas panjang di atas kasur berselimut sprai jingga.. Menikmati sedikit ruang yang melebar, melesapkan sesak, meninggalkan penat. Dia pejamkan matanya dan mulai memperhatikan segala yang melenggak di hadapan. Hitam. Kelam. Hening. Suara gemerincing.pun tiada.

Perlahan, sosok Bumi yang selama ini mengisi harinya melebur terbawa angin bernama lepas. Lepas yang dipaksakan, pencipta bilur sekujur badan lewat deretan keintiman lalu. . 

Nada menyandarkan punggungnya di atas kasur. Membiarkan penglihatannya semakin kabur menuju gerbang mimpi yang melegakan napasnya berangsur-angsur. lega? Sementara ini, iya. 

Bibirnya mengucap lirih, sementara matanya dibiarkan terpejam saat wajah mengahadap langit-langit kamar.

"Sampai jumpa di kehidupan lain, meski cinta tak dapat tersalurkan, kuyakin hati kita akan selalu saling bertautan."



#fiksivinny
#story
#flahfiction




Tangerang, 8 November 2018

Friday, January 19, 2018

JakArta

2:25 PM 0 Comments



Dibelainya kerudung merah muda yang menempel di kepala, menutupi rambut dan menyisakan wajah. Bibirnya melebar, mata redupnya bersinar. 

Rasanya adem, ya Allah

Matanya bergerak menelusuri ujung kepala hingga kaki yang terpantul di kaca. Kemeja panjang kotak-kotak paduan biru, merah dan putih. Celana jeans biru dongker. 

Nggak macthing sih. Nggak apa-apa lah ... yang penting tertutup. 

Senyumnya mengembang lagi. Kali ini bibir bawahnya digigit pelan tanda memikirkan sesuatu. Matamya melirik nakas tempat tidur yang berada di sebelah kanannya. Ponselnya menyala dan bersuara. Suara khas tanda pesan masuk, berbunyi.

Kakinya pun melangkah mendekat tempat tidur guna meraih ponsel. Ibu jari bergerak lincah menyentuh layar. Munculnya nama seorang lelaki yang dikenal pada layar, membuatnya tersenyum malu, mengulum bibirnya sejenak dan menghempaskan napas panjang.

Kamu itu satu-satunya lelaki yang membuat aku gemas, kesal dan jatuh cinta dalam waktu yang bersamaan, Ka. Tapi ... 

Bibirnya tersipu malu ketika otaknya melang-lang buana ke negeri hayalan, membayangkan dirinya bersama lelaki pujaan berlarian mengelilingi taman bunga sakura yang hanya bermekaran seminggu di musim semi. Kupu-kupu terbang. Merah muda, putih, biru. Indah.

Ibu jarinya kembali bergerak lincah. Membalas pesan yang baru saja dibaca. 

Im waiting taxi. I'll text you when the taxi is come. 

Dua menit tak ada balasan, tanda pengirim pesan mengerti dan tidak keberatan. Semenit kemudian, pintu kamar berbunyi, ada yang mengetuk di baliknya. 

"Neng Arta, taksinya sudah datang." Ucap perempuan di balik pintu. 

"Iya, Bi ... suruh tunggu sebentar," jawabnya setengah berteriak dan melangkahkan kaki menuju pintu kamar.

Selangkah menuju pintu keluar, gadis bermata hazel itu melirik ke kiri, menghentikan langkahnya, memandangi dirinya di depan kaca lagi. Membentangkan kedua tangannya, menghempaskan napasnya perlahan. 

Bayangan wajah kekasihnya datang lagi. Ingatan saat mereka memandang kota Jogyakarta dari Tebing Breksi, mencoba belajar batik tulis dengan pengusaha batik  dekat alun-alun Jogyakarta, saat menemaninya mixing lagu di studio seharian. Semua berdatangan berputar mengelilingi kepalanya. Tak berhenti sampai di situ, wajah senyum bahagia kedua orangtua, menghantuinya. Semua perjuangan ayahnya pulang berjualan lontong sayur keliling kampung setiap pagi hingga siang dengan kaki lecet-lecet hingga akhirnya bisa memiliki restauran sendiri, membuka cabang di berbagai daerah. Kenangan ibunya yang berbaring lemah, wajah putih pucat dengan selang di tangannya akibat terlalu lelah. Sungguh, Arta punya berjuta alasan untuk berjuang menjadi penyebab kebahagiaan kedua orangtuanya. 

****

"Caribou ya, Pak." Ucapnya pada pak supir. 

Pak Supir menjawab, "iya, mbak," sambil menggerakan tangannya memutar kemudi. 

Tiga puluh menit perjalanan, taksi sampai di tempat tujuan. Mata Arta bergerak mengelilingi seluruh sudut kafe bergaya art minimalis itu. Kemeja yang dikenakan Jaka berwarna senada dengan dinding kafe, hitam, sehingga membuat perempuan bermata minus dua itu harus memicingkan mata untuk memastikannya.

Jaka meletakan siku tangan kanannya dibahu sofa kulit merah. Ibu jarinya mengelus dagu perlahan, otaknya berkeliaran tak tentu arah selama menunggu Arta. Dia sengaja datang limabelas menit lebih cepat dari waktu yang mereka tentukan. Matanya memandang kendaraan yang berlalu lalang dari balik dinding kafe yang terbuat dari kaca. 

Ragu-ragu Arta memanggil lelaki yang sudah menunggunya saat dia sudah berdiri di sampingnya, "Jaka." 

Mata Jaka sedikit membelalak seiring kepalanya bergerak mundur saat menyadari bahwa itu Arta.

Hanya tangan kanannya yang bergerak mengarah sofa di seberang mejanya mengisyaratkan agar gadis ambivert itu duduk di hadapannya dengan senyum datar penuh arti. Lelaki berkulit sawo matang itu gagu seketika.

Kedua insan saling diam. Mata Jaka bergerak dari ujung kanan ke kiri, berhenti pada dinding berhias figura putih bergambar cangkir kopi merah gaya retro.  

Arta pakai kerudung sekarang? Sejak kapan? Kok nggak bilang-bilang?

"Jaka"

"Arta"

Keduanya saling memanggil dalam waktu bersamaan. Mata mereka beradu saat menyadari saling memanggil satu sama lain, sama-sama menahan tawa, malu-malu. 

Kenapa jadi kikuk begini sih? Ayo lah ... Ka! Ngomong sesuatu! Basa-basi dulu, Lo kan paling jago menghangatkan suasana. Itu modal elo! Itu yang bikin perempuan klepek-klepek sama lo.

"Kamu duluan aja, Ta. Ladies first." Ucap Jaka, bibirnya dipaksa melebar menutupi ketegangannya. . 

Diam-diam Arta memperhatikan Jaka. Binar matanya, kakinya yang tak bisa diam. Pandangannya yang ke sana ke mari. 

Mungkin dia shock. Ganteng ya Jaka ...   Nggak nyangka pernah pacaran sama cowok ganteng. Hahaha. Duh ... eh tapi nggak boleh! Ingat Arta... jangan mau diperbudak oleh napsu! Kamu ke sini mau memutuskan hubungan ini, kecuali dia mau menikahimu. 

Otak Arta berlari berkeliaran, tersenyum malu-malu, berpikir keras, melirik kanan kiri kebingungan, kemudian teringat pada bacaan semalam, Ayat-Ayat Cinta 2,  karya Kang Abik, yang membuatnya semakin yakin untuk mengakhiri hubungan ini.

Jangan pernah berdamai dengan hawa napsu karena sekali kau berdamai, napsu akan menginjak harga dirimu dan menjajahmu. 

Setelah buku, ingatannya terjun bebas pada kuliah dhuha yang dia dengar tiga hari lalu di masjid Asy-syafi oleh ustad Abdul Khaidir. 

Ketika kita yakin bahwa perintah Allah itu sudah pasti benar. Tidak ada apapun yang bisa merubah ketetapan seseorang.

Godaan dan iman berkejaran, bertarung, sama-sama ingin menang. Godaan menghantam iman dengan kenikmatan cinta semu. Iman ambruk, terkulai lemah dan ... 

"Jaka. Apa kabar?" tanya Arta, suaranya terbata, canggung. Matanya langsung menatap ujung vas bunga berbentuk square hitam. 

Jaka mengangkat alisnya menahan tawa melihat Arta malu-malu seperti itu. "Aku baik. Kamu gimana?" 

Lucu banget sih ... aku kangen kamu, Ta ... Cuma kamu yang bisa bikin aku mati gaya, jatuh cinta dan kesal dalam waktu bersamaan. Kamu kenapa pakai kerudung sih? Sejak kapan? Apa karena kerudung kamu jadi menolak ajakan aku untuk ketemu selama sebulan ini? Hhh ...

Mata Jaka terus memperhatikan Arta, tanpa sadar kepalanya ikut bergerak miring ke kiri dan tidak berusaha menanyakan kenapa Arta masih belum juga menjawab pertanyaannya. Dia masih bingung. Antara rindu, kaget, senang dan amarah bercampur jadi satu.

Satu menit saling diam, alunan lagu Moonrise dari Zimmer pun tak mampu membuat kedua manusia ini bersikap santai seperti biasanya.  Lelaki yang dikenal sebagai disc jockey itu mulai gelisah. Dipanggilnya Arta sekali lagi,
"Ta ..."

"Iya, hmm ... sorry, aku ...," Arta mengulum bibirnya. Mengelurkan pertanyaan yang sebenarnya dia tak berminat untuk mengetahuinya. "Gimana kemarin event di Balinya?" 

"Seru, asyik, rame, coba kamu ikut." Jaka mengangkat alisnya, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi pada Arta. Senyum kesukaan Arta. 

Arta membalas senyumnya. 

"Ta ...," mata mereka saling beradu, namun Arta hanya mampu bertahan memandang Jaka sedetik dan kembali menatap ujung vas bunga. Lidah Jaka kaku, napasnya tertahan. Darah seolah mengalir derah di tubuhnya. "Ta ... kita putus aja ya, kamu kan sudah pakai kerudung. Nggak boleh pacaran, kan?!" 

Apa? Jadi aku diputusin? Serius? Beneran?? 

Napas Arta berhenti tiba-tiba. Wajahnya yang menunduk terangkat tanpa disadarinya. Dalam hitungan detik, Arta mencoba menggeledah jiwa Jaka  lewat mata coklat lelaki penyuka wall climbing itu
dengan mulut sedikit terbuka. Mata bulatnya berkedip-kedip, seketika.

Sementara lelaki ekstrovert itu tampak tenang walau keningnya berkerut menanti reaksi Arta.

Bissmillah. Bismillah. Ya Allah, bukankah tadi niatku memang memutuskan hubungan ini? Lalu sekarang, kenapa aku yang kaget setengah mati sampai rasanya mau lari dari sini?? Syukurin lo Ta! Syukurin. Malah lo kan yang diputusin! Baguslah, jadi nggak perlu menyakitkan hati Jaka, kan. Kan. Kan!?

Arta membuka mulutnya, hendak berbicara. Tapi tidak jadi, keterkejutannya ternyata kembali membekukan bibir mungilnya. 

Untuk menghilangkan ketegangan, Jaka menyesap americano tanpa gulanya. Sekali dua kali, matanya diam-diam melirik ke calon mantan kekasihnya. Dia yakin wanita penyuka pizza itu shock. Dua tahun bersama membuatnya dapat mendeteksi raut wajah Arta dan mengetahui apa yang ada di dalam otaknya. 

"Kamu itu manja tapi gengsinya guede, Ta!" Umpat Jaka dengan wajah dibuat-buat seolah marah, setahun yang lalu. Dan balasan Arta cuma mengerucutkan bibirnya. Lucu. Jaka gemas padanya. 

Kenapa jadi ingat yang dulu sih?! Come on, Ta ... say something. I miss you but I think we better break up now. I dont want to have any relationship with women who wearring hijab.

Jaka menghembuskan napas kencang. Mengulum bibirnya, memanggil wanita itu. "Ta ..." 

"Ka." 

Mata mereka beradu lagi, kali ini diselaraskan dengan tawa yang lebih lepas. 

"Yaudah kamu duluan, dari tadi kamu mau ngomong kayaknya susah banget." 

"Aku ... aku minta maaf. Sebulan ini aku jarang mau diajak ketemu. Aku ..." 

"Ta ... it's okay," potong Jaka, tangan kanannya meraih jemari kanan Arta yang terletak di meja. Matanya menatap Arta dengan takzim. "Aku duluan ya, nggak apa-apa kan?" 

Sial! Kenapa begini sih? Aku masih pengen ngobrol banyak sama kamu, Ta ... aku kangen! 

Arta menjawab dengan dua kali menganggukkan kepala, pelan. Jaka meraih cangkir kopi, menyesapnya sekali, kemudian bangkit.

"See u, Ta." 

Arta memandang Jaka yang semakin menjauh. Langkahnya cepat, kepala menunduk dan jemari kirinya dimasukan ke saku celananya. Kolaborasi gerakan memejamkan mata dan menghembuskan napas pelan berhasil membuatnya tenang. 

"Ini sakit, sakit. Dua tahun terbuang sia-sia" Arta menghempas napas perlahan, "terima kasih ya, Ka. Alhamdulillah ... terima kasih ya Allah." Lirih Arta bersenandika. 

Jaka duduk terdiam di bangku kemudi. Tangannya memegang setir dengan mata memandang lurus ke depan.  Satu menit terlewat tanpa gerakan. Tubuh dan otaknya tidak singkrong. Tak berapa lama, tangan kirinya meraih ponsel yang diletakan di bangku penumpang. Jarinya mengetik nama di kontak ponsel. Memencet tombol call

"Hi, Baby ... Im on my way to your apartement, ya. See u." 

-End-


Tangerang, 18 Januari 2018
Vinny Martina

#fiksivinny










Thursday, January 4, 2018

Mengenal Bangunan New York lewat Novel Ika Natassa

9:29 AM 22 Comments

Judul : The Architecture of Love
Penulis : Ika Natassa
Halaman 397
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sebenarnya apa sih yang membuat seorang penulis bisa selalu produktif begitu pun writter block

Well, novel karya Ika Natassa yang berjudul The Architecture of Love ini menceritakan kisah seorang penulis terkenal bernama Raia yang sedang mengalami writter block bertemu dengan seorang lelaki bernama River saat dia 'ngabur' ke New York untuk mencari ide. Enam puluh sembilan hari yang berjalan sia-sia akhirnya berlalu setelah Raia dan River berkeliling kota sejak jam 9.00 pagi hingga petang, mengunjungi gedung-gedung dan mendengarkan sejarah dibangunnya gedung tersebut dari River hampir setiap hari.

Raia penasaran dengan River karena pembawaannya yang cool, jarang bicara mengenai hal pribadi meski mereka hampir setiap hari bertemu, selama tiga bulan. Raia pun menganalogikan arsitek tampan itu dengan sebuah puzzle

River si laki-laki berkaus kaki hijau itu, seperti puzzle. Dulu, puzzle yang belum selesai kukerjakan selalu membuatku gergetan. Tapi, River tidak. He makes me happy even when he is incompleted. (Hal. 150)

Geniusnya Ika Natassa tidak hanya urusan bagaimana dia meramu cerita mainstreem menjadi bacaan yang penuh informasi edukasi, menambah wawasan pembaca, tapi juga piawai membuat tokoh seolah nyata. 

Dengan gaya bercerita khas. Alur maju mundur. Point of view orang pertama (Raiya dan River), orang ke 3. Saya yakin, novel ini bisa menghipnotis pembaca yang tidak memiliki hobby membaca buku setebal 300an jadi suka membaca a.k.a rela memakai waktu senggangnya untuk 'melahapnya' demi mengetahui apa yang akan terjadi pada kedua tokoh yang menggemaskan itu.

Sebuah keahlian yang patut saya contek dari seorang penulis sekaligus Banker ini. Tapi yang pasti dari gaya penulisannya yang saya sebut di atas, kewajiban saya adalah rajin membaca dan mencatat ilmu apapun yang saya dapat dari mana dan kapan saja untuk diselipkan dalam tulisan. 

Oke, kembali ke kisah Raia dan River. Kegalauan kedua insan ini semakin menjadi setelah River pulang ke Jakarta. Gimana Raia nggak galau? River menghilang tanpa kabar walau sebenarnya kakak dari Aga yang sebenarnya naksir Raia duluan ini juga galau. Galau berjama'ah deh jadinya. 

Tapi, karena si cool River yang mengalami trauma akibat kecelakan dan membuat Kiandra, istrinya meninggal itulah River jadi sangat berhati-hati pada perasaan yang bergejolak di hatinya yaitu Cinta. 

Sama-sama jatuh cinta, sama-sama menunggu, sama-sama diam. Jadilah membuat pembaca gergetan. Kenapa nggak ada yang ngomong sih?! Salah satu aja, gitu ... Saya yakin, pembaca pasti pinginnya Riverlah yang mengungkapkan cinta duluan kepada Raia karena sebenarnya diam-diam tokoh yang dibuat oleh Ika, sangat menyukai mie instan ini, pun memiliki trauma seperti River. 

Tapi, bukan Ika Natassa namanya kalau bikin kita tiba-tiba kehilangan mood membaca novelnya hingga tuntas gara-gara kisah Raia dan River aneh.

Seperti novel yang saya baca sebelumnya, Critical Eleven. Penulis yang hanya menulis di hari sabtu dan minggu ini selalu membuat ending terbuka, pembaca diajak berhayal akan seperti apa hubungan mereka nanti saat sudah bersama, akan ada konflik apa ya mereka? bisa sembuh dari trauma nggak ya si lelaki yang hobby makan popcorn ini? 

Setiap bangunan selalu punya cerita. Apartemen Aga di Manhattan tempat mereka digariskan bertemu. Kedai Kopi di West 59th street tempat mereka saling mengenal pertama kali. Dan toko buku ini. (Hal. 292)

Dari sekian banyak novel yang saya baca, Ika Natassa memang memiliki ciri khas yang sangat mudah dihapal. Buku ini rekomen sekali untuk dinikmati di waktu senggang. Jangan lupa bawa kamus ya ... atau kalau mau praktis download kamus di play store. Agak ribet ya... ha ha ha. Ya, everything needs an afford to get it, right? 

Selamat menikmati 


Salam odop! 
Verba volant scripta manent
Vinny Martina


4 januari 2018

#onedayonepost
#vinnyreview
#vinnysdiary

Tuesday, January 2, 2018

Perumahan Nusantara, Gampang Kok Aksesnya

11:05 AM 4 Comments
Jujur saja, begitu dihubungi teman yang meminta saya menulis copywritting produk yang dijual olehnya, sebenarnya saya bingung mau memulai tulisan dari mana karena saya merasa belum benar-benar tergerak untuk memiliki rumah. Pokoknya belum kebayang bagaimana rumah impian saya kelak. Duh ... bahaya tidak ya? Masa sih di usia kepala tiga begini belum kepikiran pingin punya rumah? Itulah pertanyaan yang berputar di otak saya dengan huruf caption semua! Ha ha ha. 

Namun, setelah saya baca baik-baik brosurnya, ditambah penjelasan mbak Siti (teman saya, marketing properti) yang sangat informatif, detil dan sabar menghadapi saya yang bawel karena banyak nanya ini. Pikiran untuk memiliki rumah langsung terbuka lebar bak pintu yang sengaja dibuka di pagi hari. Terang ... segar ... 

Property yang ditawarkan bernama Perumahan Nusantara. Terletak di  Jalan Raya Sukatan, Desa Suka Mulya. Kecamatan Sukatani Cikarang-Bekasi. Jujur nih ya, begitu dengar kata Cikarang, yang menempel di otak saya adalah kota ujung banget! Jauh! Debu! Macet! Ah ... males deh! 



Tapi begitu mbak Siti ngasih tahu bahwa Perumahan Nusantara hanya 20 menit dari terminal Cikarang bahkan stasiun. Wah ... berasa kayak lagi kebingungan di dalam ruangan yang gelap terus tiba-tiba dikasih lampu. Cling! Karena artinya, akses ke mana-mana akan sangat mudah dan cepat. 

Ada satu lagi yang membuat makin tertarik, yaitu cicilan rumah FLAT hingga LUNAS dan TANPA DP. Uwow ... amajing! 

Seperti apa rumah rumah yang diceritakan mbak Siti pada saya? 

Ini nih... fotonya. Bisa lihat dibawah ... Perumahan Nusantara. Harga sekitar 148.500.000,00 untuk tipe rumah 36, luas tanah 69m persegi. Ada 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur. Halaman belakang yang bisa dikreasikan, halaman yang muat untuk garasi mobil. *kebayang pingin buat taman kecil dengan kolam ikan mini di halaman belakang*



Lengkap ya? Cukuplah untuk pasangan suami istri yang baru menikah bahkan sudah memiliki 1-2 anak. Hi hi. Jadi kebayang lagi deh, duduk di teras rumah sendiri di Perumahan Nusantara

Duuh ... terima kasih banget lho mbak Siti atas pencerahannya. Begitu ada modal, insya Allah langsung hubungi dirimu. Pokoknya aku percayakan semua padamu, mbak ... 

Teman-teman, ada yang tertarik untuk beli rumah? Mau tanya-tanya dulu? Cuss... hubungi mbak Siti. She is super recomended! Nomernya 0813-8577-7909, facebooknya di sini


Salam 
Vinny Martina 
2 januari 20018

#artikel
#copywritting
#vinnysdiary
#onedayonepost




Friday, December 29, 2017

Dari pesan, memberi kesan, saling menyimpan kenangan

10:26 AM 14 Comments

"Wih ... keren, hobby-nya suka membaca ..."

Begitu biasanya komentar orang-orang ketika tahu saya suka membaca. Ada apa ya? Kenapa dibilang keren? Hobby memasak pun keren, kan? Menjahit, bercocok tanam, bahkan bermain layang-pun bisa jadi keren walau kalau dilihat oleh ibu-ibu itu sangat tidak berguna. "Iya lah ... abis kesel, layangan putus dikejar-kejar, tinggal beli doang, harganya cuma dua ribu. Ngejar-ngejar layangan kan bahaya! Kaki lari-lari, mata mendongak ke atas! Keserimpet baru tahu rasa!" begitu komentar ceu Kokom, tetangga khayalan saya tiap melihat anak-anak remaja berebutan layang-layang di pinggir sungai.

Saya pun hanya mampu membalasnya dengan senyuman. Senyum manis tentunya.

Kembali ke perihal membaca. Sebenarnya saya paham kenapa dibilang keren jika kita punya hobby membaca, karena lewat membaca kita jadi lebih banyak pengetahuan daripada orang lain. Dan tidak semua orang suka membaca. (Sama seperti tidak semua orang suka menjahit, ya kan?! Lalu di mana letak perbedaannya?) 

Namun, kadang kala kita yang suka membaca, hanya sekedar suka, tidak disertai dengan kefokusan atau niat kuat untuk menyelesaikan bacaan. (Banyak ... hayo mgaku. Kalau saya sih, yes!) Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mengikuti RCO (Reading Challenge ODOP). Mau tahu seperti apa RCO? Silakan hubungi saya secara pribadi saja, yah. 

Ada tiga buku yang sudah saya baca selama mengikuti RCO. (Baru tiga buku aja bangga, Vin... Vin...) Salah satunya, berjudul Mata Hari karya penulis asal Brazil, Paulo Coelho. Buku Mata Hari menceritakan perjalanan seorang penari telanjang eksotis pada tahun 1800-1917an, waktu itu adalah jaman Perang Dunia I ya.  Penari asal Belanda ini diduga telah menjadi mata-mata dua negara yang saling berperang yaitu Jerman dan Prancis. Akibatnya, Mata Hari dihukum mati di Vinccenes, Paris, Perancis. 

Kisahnya cukup tragis, banyak mengungkapkan kesedihan, kesepian dan beberapa kekerasan ... meski pada pembukaan, Mata Hari diperlihatkan begitu tegar, siap dan berani menghadapi bidikan senapan. Gaya penulisan unik sang maestro membuat saya terkagum-kagum (terjadi pertengkaran  batin sebab antara pusing dan penasaran saling menikam untuk menyerah, tapi saya bersyukur, penasaranlah pemenangnya. Yeeaaay ...) karena ditulis dengan gaya menulis surat. Mata Hari menulis surat kepada pengacaranya, dan pengacaranya pun menulis surat yang tidak pernah dibaca Mata Hari karena penari bernama asli Margaretha Geertruida Zelle, sudah meninggal. 

Apa lagi yang menarik? Tentu karena sesungguhnya novel ini diangkat dari kisah nyata! Kalian tinggal tulis nama Mata Hari di kolom seaching google. Maka informasi mengenai perempuan yang pernah tinggal di Indonesia ini berbaris rapi dan melambaikan tangan untuk ditelanjangi isinya. 

Adalah ... sang Maestro yang juga penulis legendaris harus menyewa pengacara dalam proses penulisan novel ini. Juga mencari data ke Dinas Intel Inggris hingga akhirnya data tersebut dapat diakses di situs resminya (Kalau kata kita mah, blusukan, yes... luar biasa ya opa Paulo!) Itulah yang paling berkesan bagi saya. 

Karena dalam sebuah karya pasti ada perjuangan tiada henti, salah satunya adalah melawan kemalasan! Paulo Coelho berhasil melewati semua. Terbukti bukunya laris manis di pasaran dunia bak pulsa internet sepuluhribuan! 

Rasanya, sangat pantas bila penulis yang sebagian kecil hidupnya bisa dibaca di sini menjadi panutan kita. Ya, nggak?! Iya lah .... legendaris gitu lho ...

Baiklah ... karena masih banyak yang harus saya kerjakan selain menyampaikan kesan, maka saya sudahi saja tulisan tak seberapa ini. Saya ikhlas jika setelah membaca ini, kalian dihantui penasaran yang besarnya seperti Hagrid dalam Harry Potter atau si Hijau Hulk yang kuat! Saya juga ikhlas jika setelah baca tulisan tak seberapa ini, kalian jadi tertarik untuk baca tulisan saya sebelum bahkan selanjutnya. Yakin sungguh! Biar saya jadi rajin posting gitu, kan... 

Selamat beraktifitas, ya ... semoga... semoga ... semoga ... semoganya biarlah menjadi rahasia  qalbu masing-masing saja. Aamiin. 


Vinny Martina
Tangerang 29 Desember 2017

#onedayonepost


#diaryvinny