Wednesday, December 4, 2019

Asyik-nya Ke Goa Langse

1:23 PM 1 Comments
 
Karang sebelum melintasi tebing Parangtritis menuju Goa Langse

Saya baru benar-benar bisa datang ke Goa Langse bulan Juli 2019, padahal undangannya sudah datang tiga tahun lalu dari semesta. Kesendirian membuat saya mengurungkan niat ke sana setelah teman membagi perjalanannya melalui video yang dikirim lewat WhatsApp, dua tahun lalu. 

Berjarak 30 km dari pusat kota Yogyakarta, Jalan Malioboro. Saya menempuhnya dengan motor bersama teman-teman selama satu setengah jam. Sensasi senang, khawatir dan penasaran pun silih berganti menyapa selama perjalanan. 

Secara administratif Goa Langse terletak Desa Girirejo, Kec. Panggang, Kab Gunung Kidul. Tepatnya di kaki tebing Pantai Parangtritis. Goa yang letaknya 3km dari pantai Parangtritis ini banyak sekali menyimpan sejarah, misalnya; sebagai tempat bertemunya panembahan Senopati dengan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul yang konon meninggalkan sebuah perjanjian antara manusia dan makhluk astral tersebut untuk kelangsungan Kerajaan Mataram. Tidak hanya itu, konon Goa Langse juga sering dijadikan tempat tirakat wali songo, seperti; Sunan Kalijaga, Sunan Bonang sampai Syeikh Siti Djenar, pada masanya.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan jaman goa yang memiliki kedalaman sekitar 30 meter ini, ditemukan kembali sekitar tahun 1945an oleh Presiden Pertama RI Soekarno sebagai tempat meditasi dan baru pada tahun 1950an Mbah Mijem tinggal di sana. 

Karena dipercaya Goa Langse yang airnya tawar dan berada di tebing pantai Selatan itu memiliki kekuatan mistis, banyak sekali yang sengaja datang ke sana untuk tirakat, meditasi berharap mendapatkan "sesuatu" atau (yang ini lebih jelas lagi keinginannya) kenaikan jabatan, rejeki yang banyak dan lain-lain.

 Apakah keinginan itu terwujud? Sebagian ada yang terwujud, sebagian ada yang tidak. Waalahu Alam 

Meski begitu, tak sedikit yang datang hanya untuk sekedar sowan, bertemu dengan kanjeng ibu ratu pantai selatan, Nyi Roro Kidul atau sebagai kegiatan wisata sejarah saja.

Saya pribadi datang ke sana sebagai wisata sejarah Sekaligus ingin menikmati udara pantai yang sejuk di depan goa dan memandang laut selatan tanpa ada yang berlalu lalang. Benar saja, suasana tersebut saya dapatkan meski butuh perjuangan cukup keras. 

Untuk menuju Goa Langse, kita perlu berjalan lagi dari tempat parkir menelusuri ladang pohon jati sepanjang 500 meter. Setelah itu kita akan disambut oleh si cantik karang yang tidak begitu menjulang tapi cukup artistik untuk bisa melintasi 10 tangga tegak dan curam di tebing parangtritis, masing-masing terdiri sekitar 12-15 anak tangga dari bambu dan kayu yang diikat dengan tali atau akar pohon. Medannya cukup mengerikan karena bebatuan kars tersebut hanya bisa dilintasi satu orang ditambah deburan ombak yang keras nan galak macam siap melahap. Jadi, berhati-hatilah, fokus, sebab kalau kepleset, habis lah riwayat kita menggelinding dinding jurang yang penuh akar-akar pohon dan berlantai karang. Uhuks. 

Haus mbaknya... šŸ˜„

Inget film apa gitu... 

Menegangkan dan seru sekaligus
Mini me

Ini antara tangga ke sembilan atau sepuluh dari atas, ya? Neneng oleng

 
Sampai di dataran landai, saya disambut Bambang (anjing putih) yang mengikuti sampai mulut goa (ngeri-ngeri sedapnya gak kurang seperti diikuti preman di terminal) di sana juga terdapat bilik yang dijadikan toilet dan  bersih-bersih (wudhu) sebelum tirakat. Sampai mulut goa kami disambut oleh empat orang yang sedang bercengkerama sambal menikmati teh dan kopi.

Mulut nganga saking kagum.

Goa Langse dari mulut Goa

Penampakan dari dalam Goa




"Ini hari keempat kami di sini,  kata salah satu dari keempat bapak yang berasal dari Bekasi.

"Kami cuma mau tirakat mbak, menyatu dengan alam," kata bapak satunya lagi yang berasal dari Solo.

Tampaknya kalimat "menyatu dengan alam" semakin melekat pada kegiatan meditasi, tirakat yang dilakukan di alam terbuka.

Kembali ke Goa, Goa langse sendiri panjangnya tidak lebih dari 30 meter dari mulut goa. Udaranya sejuk namun sangat lembab. Di samping mulut Goa ada satu spot yang menarik sekali untuk disinggahi karena menghadap langsung dengan Pantai Selatan. 

Ruang pertama goa, dikelilingi batu basah abu tua dan coklat yang sebagiannya meneteskan air tawar. Terdapat anak tangga dan lubang diameter 1 meter menyambung pada ruang utama tempat pengunjung meditasi. Di ruang tersebut kalian akan mencium aroma dupa yang khas, hangat tapi tidak menyengat nan gulita. Saat itu kedatangan kami bertepatan dengan orang-orang yang melakukan meditasi, jadi banyak melati bertebaran. 

Hati-hati ya, saat memasuki ruang ke dua karena lubangnya kecil dan jalannya agak licin. Terdapat batu cekung yang menampung sumber air tetesan dan batu yang bisa dijadikan meja atau tempat menyimpan sesuatu bagi yang hendak meditasi di sana yang konon dipercaya bisa mewujudkan semua keinginan kita jika meminumnya. 

Saya percaya kita dan semesta sama-sama memiliki energy yang saling berkaitan. Dan meditasi adalah kegiatan mendengar, merasakan energy sekeliling kita. Meditasi juga menjadi sebuah ritual khusus untuk bisa bercengkrama dengan berbagai makhluk yang ada di bumi.

Mengunjungi Goa Langse adalah sebuah pengalaman yang menyadarkan saya bahwa ada kehidupan ribuan tahun sebelum saya jadi manusia, sejarah adalah bagian dari hidup kita yang perlu diketahui. Perjalanannya yang "tidak biasa" mengajarkan saya untuk mensyukuri segala kemudahan dan semakin yakin dengan kesempurnaan sang pencipta. 

Saran saya, pakai pakaian yang nyaman, tidak terlalu tipis tidak juga tebal, gunakan celana jangan rok. (Ya kali manjat tebing gak pakai pengaman tetap maksa pake rok. Hehehe) pakai sunblock (kalau menurut kalian perlu), bawa handuk untuk membasuh keringat (mengurangi sampai tissue, guys) Siapkan fisik yang sehat dan kuat serta bekal air minum dan makanan yang cukup (snacking lah... Gak perlu nasi padang juga, bega')

Selamat bertamasya, selamat menikmati keindahannya dengan secanggir kopi sachet hitam atau teh tubruk dan siap-siap dilempar jauh ke ratusan tahun belakang dan merasakan sensasi energy yang kuat begitu kaki menginjak mulut goa. 





#goalangse
#jawatengah
#vinnystory




Friday, November 22, 2019

Apa isi Wedding Agreement ala Mia Chuz?

4:17 PM 2 Comments
Judul buku: Wedding Agreement 
Penulis: Mia Chuz
Penerbit: Nanikho Publisher
ISBN:
Catakan Pertama: 2018
Tebal: 418 halaman

Judulnya saja sudah membuat para perempuan penasaran. Yes... Perempuan, perempuan baik remaja maupun dewasa, single maupun sudah beranak pinak, selalu tertarik dengan segala yang berbau P.E.R.C.I.N.T.A.A.N

Ada cerita apa di balik novel Wedding Agreement? Intinya adalah perjuangan mempertahankan pernikahan berlandaskan perjodohan. 

Tokoh utamanya adalah Tari Hapsari dan Bian yang mau tidak mau harus menerima perjodohan ini sebagai bentuk bakti pada orangtua yang telah membesarkannya. Sementara, Tari justru dirawat oleh pakde dan bude sejak kedua orangtuanya tiada akibat kecelakaan yang menimpa. 

Hari pernikahan yang seharusnya hangat dan penuh cinta tidak dirasakan Tari juga Bian. Kesengsaraannya bertambah berkali-kali lipat ketika Bian, suami hasil perjodohannya menyerahkan sebuah wedding agreement, konflik pun dimulai. 

Dalam surat perjanjian itu semua ketentuan dibuat sepihak oleh Bian yang mengaku mencintai perempuan lain dan mereka sudah bertunangan, siap menikah setelah mereka (Tari dan Bian) resmi bercerai, tahun depan. 

Sadizzz. He he he. Aku sih pingsan digituin suami di hari kedua setelah pernikahan.

Penulis tentu saja tidak hanya ingin menghibur pembaca dengan cerita berkonflik fenomenal ini. Ada pelajaran yang bisa dipetik dari kisah perjalanan Tari dan Bian yaitu tentang kesabaran, usaha yang berlandaskan untuk Tuhan dan kekuatan doa yang tulus dan tak putus-putus.

Mata Tari hangat, dia mengikuti punggung suaminya yang menghilang di balik pintu saat Bian masuk ke kamar. Dia menyeka pipinya yang basah. Bodoh! Sudah tahu Bian akan mengabaikan, tetap saja dia berlaku sebagai istri yang patuh. (Halaman 23)

Jadi meski hampir semua pembaca sudah bisa menebak ending kisah dua sejoli ini. Konflik twisted yang disajikan patut dibaca sampai tuntas karena di situlah letak kenikmatan membaca sebuah novel romantika, ada up and down-nya. 

Point of view orang ketiga yang dipakai penulis tidak serta merta menyurutkan rasa penasaran pembaca yang tetap bisa mengetahui gejolak batin semua tokoh dalam novel Wedding Agreement ini. 

Sekuat apa gejolak batin yang mengganggu Tari dan Bian sehingga mereka memutuskan berpisah rumah sementara waktu untuk menetralkan pikiran? Dan... Bagaimana kira-kira nasib kekasih Bian yang akhirnya mengalah pada kenyataan, mundur teratur. 

Novel wedding Agreement mengajarkan kita untuk menyerahkan semua ketentuan pada Tuhan setelah berjuang sekuat tenaga berkawan air mata dan lelah. 

Percayalah selalu ada hikmah dibalik semua yang terjadi di kehidupan kita, begitulah lesson learning yang disampaikan Mia Chuz lewat kisah Tari dan Bian. Pelajaran spiritual yang dikemas dalam bahasa sangat sederhana hingga mudah dicerna pembaca dari berbagai kalangan. 

Angka 8 untuk novel Wedding Agreement dariku, rasanya cocok sekali menikmati wedding agreement sore hari bersama teh vanilla dan seiris red velvet cake



#novel
#book
#bookreview
#vinnystory


 



Friday, November 15, 2019

Air Terjun Arca Domas, Aku Datang!

7:03 PM 0 Comments

Temans, kalian tentu setuju wisata yang bersentuhan langsung dengan semesta raya selalu meninggalkan kesan ketenangan, kebersihan batin. Iya nggak sih? Macam detoksifikasi jiwa gitu deh... Hehe 

Wisata ini sebenarnya sudah kami rencanakan sejak lama, tapi karena berbagai kendala termasuk kondisi cuaca pada saat itu sedang tidak bisa diprediksi macam cewek-cewek muda jaman sekarang. Eeaa

Maka, baru bisa kami realisasikan dua bulan kemudian. Sebenarnya, ini kali pertama saya kemping lagi setelah hampir belasan tahun tidak melakukannya. Kali ini saya mengajak sahabat saya sekaligus partner jalan kaki selama ini, Okta, didampingi beberapa kawan yang sudah pernah ke Curug Arcadomas, Cipeteuy. 

Kami sengaja datang di malam hari agar terhindar dari kemacetan kota bogor yang aduhai ciamik syekali. Serunya (iya, saya bilang seru karena saya suka hujan. Hehe he) lagi, Bogor diguyur hujan sejak saya tiba di satsiun sekitar jam 5:30. 

Rencana naik Angkot pun buyar berganti taksi online berwarna hijau itu. Syukurnya bapak supir tahu jalan pintas sehingga kami terhindar dari kepadatan kota menuju Dramaga, Ciampea.

Sambil menyeruput air jeruk panas saya dan okta menunggu kawan yang siap menemani kami menuju lokasi kemping. 

30 menit kemudian kami pun memulai perjalanan kami dengan motor, setelah segala keperluan yang sudah dibeli. Dari Ciampea melintasi jalan yang bisa menembus daerah Ciapus, Bogor Barat lokasi curug Nangka yang sudah cukup dikenal masyarakat luas. 

1.30 jam perjalanan dengan kecepatan sedang berakhir dengan kepukauan hati saya dan Okta begitu tiba di lahan parkir. Baru lahan parkir lho... Belum masuk ke area perkemahannya. 

Kawasannya hanya berlampu rembulan, beralas batu tak beraturan. Suara manusia hanya berasal dari kami, selebihnya, semua datang dari dedaunan yang dihempas angin malam, tanah yang dijejaki kaki, dan alunan nada serangga kebun pinus yang begitu indah. harum tanah lembab pun begitu menyengat sampai di hidung kami. 

Saya yang sudah lama tidak merasakan suasana sunyi begini, tentu saja melonjak gembira. Hal itu pun terlukis pada wajah Okta dan dua teman perempuan kami, lainnya lewat pancaran mata dan bibir yang tak pernah berhenti tersenyum.

Kata "awas licin", " hati-hati", "kalau ada yang cape, bilang ya..." Keluar dari mulut teman kami VJ, hampir setiap menit. Hehe he. Sungguh guide yang mumpuni kamu tuh, VJ... 

Kurang lebih 30 menit berjalan pelan, menanjak, melintasi bebatuan, akar pinus yang menyembul ditiap jengkal tanah. Akhirnya kami menemukan tanah landai yang bisa dijadikan alas untuk memasang tends, tanpa peduli pada tanah lembab yang akan meninggalkan jejaknya di celana, kami duduk berselonjor tanpa alas untuk beristirahat. 

Lalu setelah selesai memasang tenda, apakah kami langsung tiduran santai di tenda? Oh tentu tidak... He he he. Salah satu teman kami membawa Hanmook dan memasangnya diantara dua pinus. Jadilah kamu tiduran terlentang dan mengikhlaskan tubuh diayun oleh angin malam di sana sambal memandangi bintang dan purnama.  

Melihat purnama, saya jadi teringat dengan kisah Fatimah Az-zahra Binti Muhammad. Dari buku biography beliau karya Sibel Eraslan, saya mengetahui kebiasaannya menyapa bulan dan hujan. Hal yang sering saya lakukan juga (beberapa orang melabeli saya aneh, iya tadinya saya pikir sama meski tak peduli. He he he) selama ini. Dan malam itu saya melakukannya dengan perasaan bahagia seperti sedang berbincang dengan kawan lama. Adakah di sini yang suka bercengkerama dengan semesta, seperti bintang atau bulan, misalnya? 

Aaah.. Baiklah, back to the topic. Suhu udara Cipeteuy lumayan menusuk tulang sehingga membuat kami hanya mampu bertahan di atas hanmook sampai jam dua belas malam dan terlelap kemudian. 

Kurang lebih kami bang in jam 7 pagi, masak air untuk membuat kopi, teh, air have, apapun yang kami inginkan. Karena rimbunnya Pinus, since matahari pagi tak memberi banyak pengaruh untuk tubuh kami, sehingga sebagian dari kami, VJ tepatnya melakukan sneak ringan diikuti gelak tawa tetangga depan tenda kami. Iya, ternyata ada beberapa kelompok yang juga bermalam di sini. 

Tak ingin terlalu lama berleyeh-leyeh, kini tibalah saatnya mengeksplore air terjun Arca Domas. Ada dua spot air terjun di sana dan kami memilih mengeksplore salah satunya yang masih sepi. 

Jarak menuju spot air terjun dari tenda tidaklah lebih dari 500 meter, tapi karena medannya lumayan licin, berbatu cukup besar, seukuran saya deh. Hahaha. Itu sih besar... Belum lagi harus melewati jembatan dan tangga dari bambu yang ikut bergerak dan menimbulkan bunyi,  seolah mengadu kesakitan atas beban yang ditanggungnya. Jadilah, kami sampai di spot air terjun sekitar 30 menit lebih. 

Saya nggak bisa berenang, asli! Tapi siapa yang sanggup menahan diri cuma main air dengan jemari apabila airnyaa sejernih itu, kolamnya lumayan besar, tidak terlalu dalam pula. Berendem-berendem sebentar lah... Itu pun tanggung bangeeet... Mata siapa yang tidak terhipnotis dengan pandangan jelas kaki di dasar kolam kreasi alam meski kedalamannya sekitar 150cm. Uhuy. Warga Jakarta apalagi Tangerang. Norak bin ketagihan, pasti! 

Jadi yasudah... Basah, basahkan sajalah... Menikmati kolabirasi antara kesejukan udara dan dinginnya air yang menjalar ke seluruh tubuh menembus tulang. Biang kerok mengeriputnya ujung jari, bibir gemeretak dan membiru. Permukaan kulit yang kehilangan rasa serta kelaparan... Kemudian. 

Dua jam bermain air serasa 20 menit. Matahari semakin meninggi, waktu kembali remain dekat memaksa kami untuk kembali ke tenda, bersih-bersih dan bersiap untuk kembali ke habitat. Melakukan aktifitas seperti biasa. 

Hidup memang harus seimbang. Antara memberi dan menerima. Alih-alih memberi kita sebenarnya sedang menerima hak berkesempatan menjadi kurir kebaikan yang dipersembahan oleh sang pencipta. Sementara, ketika mata telanjang kita terlihat menerima, sesungguhnya kita sedang bekerja memberi arti sebuah subjek yang ada di hadapan kita, tugas kita adalah menjaga semua tetap harmony.



Terima kasih atas undangannya untuk menikmati Air Terjun Arca Domas Kampung Cipeteuy Kabupaten Bogor, Ya Tuhan. 

Aku siap menerima undangan baru dan menikmati hasil karyamu yang lain di seluruh bumi. Mexico, misalnya, Ha ha ha. 

Untuk kalian yang sudah pernah ke Air Terjun Arca Domas, boleh berbagi cerita. Sementara, untuk yang belum pernah, sila disimak dan boleh mengajak saya ke Arca Domasnya.  Ini  serius dan pasang wajah senyum bicaranya. He he he

#airterjunarcadomas
#bogor
#review
#vinnystory



















Friday, October 18, 2019

Desahan Sambekala

2:18 PM 10 Comments

Aku menyayangimu
Seperti mata teduh memandang senja
Seperti dedaunan tercumbu bayu
Seperti awan kemawan hendak hujan

Aku merindumu
Seperti tanah retak menanti gerimis
Seperti tunas yang akhirnya bermekaran
Seperti daun menguning berguguran

Aku menginginkanmu
Seperti air sungai mengalir ke lautan
Seperti ombak menghantam karang
Seperti matahari di ujung samudra


Vinny Martina

Saturday, October 12, 2019

Jadi, Semua Orang Bloomington Absurd?

2:49 PM 12 Comments



Pendahuluan

Sebelum ke Bloomington, kebanyakan cerpeng-cerpen sasya adalah cerpen absurd. Meskipun di Bloomington saya juga menulis cerpen absurd yang tidak saya sertakan di sini. Karena memang cerpen ini tidak menyangkut Bloomington. Semua cerpen dalam Orang-Orang Bloomington adalah cerpen realistis, tidak melesat ke dunia sana. Apakah nanti saya akan kembali ke cerpen absurd. Saya tidak tahu.

***

Seperti biasa, rasa penasaran selalu menjadi alasan utama saya mencari tahu lebih dalam mengenai segala sesuatu. Kali ini yang menjadi objeknya adalah Eyang Budi Darma yang segambreng karyanya  masuk jajaran Best Seller sekaligus menerima banyak penghargaan.

Bagi saya, membaca buku adalah salah satu cara untuk menjelajah dunia, memanjakan imajinasi dengan cara mudah dan murah dengan hasil meriah. He he he.  Maka dari itu, saya memilih kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington dengan tujuan ingin mengenal lebih banyak Bloomington, kota bagian selatan Indiana, Us. Bayangan saya, Budi Darma melukis Bloomington sedemikian rupa seperti Ika Natassa melukis bangunan dan suasana New York dalam novel the Architecture Of Love. Tapi ternyata, dugaan saya keliru. Sedih? Nggak ...

Meski begitu, minimnya deskripsi kota yang dijuluki University City ini tidak lantas membuat saya emoh menyelam semakin dalam kolam cerita Orang-orang Bloomington. Sebab, walau ide ceritanya sederhana, cara penulis menggambarkan sosok orang Bloomington sangat mengaduk-aduk emosi saya. Sehingga saya gemas bahkan gergetan dibuatnya. Macam ibu-ibu di jalan yang gemes liat abegeh pakai hotpant motoran bertiga, siang bolong pula. Ha  ha ha. Dan kalau buku ini saya kasih anak-anak Jaksel, kemungkinan komen mereka adalah anjrit ni orang literally annoying banget, sumpah!! (bagus kalau bukunya nggak dilempar,deh)

Yah ... begitulah analogi saya terhadap tokoh-tokoh yang dicipta oleh Budi Darma dalam Orang-Orang Blooomington. Dari ketujuh cerpen yang eksis, saya paling gemas dengan “aku” dalam cerpen berjudul Keluarga M. Sang Narator digambarkan sebagai lelelaki single, tinggal di apartemen berlantai delapan dengan penghuni yang cukup banyak dan rata-rata sudah berkeluarga.
Konflik bermula saat dia mengetahui mobil satu-satunya baret secara sengaja. Di cerpen ini, penulis piawai sekali mendeskripsikan suasana yang membuat saya ikut tegang hingga mata tak ingin berhenti barang sedetik untuk segera mengetahui kelanjutan ceritanya. Aha lebay... eh tapi bener! Coba aja sendiri.

Setelah diusut, akhirnya tokoh tahu siapa dalang dari berkurangnya kemolekan mobil kesayangan. Yaitu, anak tetangga apartemen-nya yang berusia sembilan dan lima tahun. Mereka kakak beradik, guys. Memang sih, segala perbuatan itu ada konsekwensinya dan kita sebagai orang tua wajib memberikan pengertian tersebut. Tapi, bukan berarti mereka dicaci maki apalagi sampai diledeki sesuatu yang mereka sukai lantas ketika mereka senang karena tahu akan mendapatkannya dari tokoh “aku”. Begitu mereka berdiri di depan “aku” dengan wajah sumringah, sang “aku” meludahinya, kemudian membuangnya begitu saja ke tong sampah dengan bibir tersenyum puas. Apa-apaan ini?!  Saya jadi berpikir, sebenarnya ini absurd atau sakit jiwa? Hhrrgghh ...

Sebenarnya masih banyak tindakan tokoh aku yang membuat saya geram tapi cukuplah segitu saja, kalian bisa tahu sendiri nanti kalau sudah membacanya sampai tuntas.

Apakah hanya segitu saja keabsurdan orang Bloomington? Oh... tentu tidak. Selain pendendam, Budi Darma juga merefleksikan orang Bloomington yang kepo luar biasa dalam cerpennya yang berjudul Lelaki Tua Tanpa Nama. Bayangkan... narator yang digambarkan sebagai seorang mahasiswa itu rela begadang hanya untuk menguntil tetangga sebelahnya seorang lelaki tua yang sering memegang senapan, lewat jendela secara diam-diam.

Tokoh juga tak segan-segan mengintai gerak-gerik lelaki tua itu setiap hari untuk mengatur pertemuan tidak sengaja di tengah jalan demi memuaskan keingintahuannya. Meski usahanya ssering gagal, tokoh tetap gigih berusaha lewat cara lain, yaitu menelepon semua tetangga berkali-kali menanyakan beberapa hal mengenai lelaki tua tersebut.

Karena para tetangga merasa tertanggu dengan teleponnya yang bahkan dilakukan di jam tidur, maka diapun menghentikan cara tersebut.

Ny. Macmilan berkata, siapapun tidak perlu mencampuri urusan-urusan Ny Casper. Kalau Ny. Casper sendiri tidak meminta tolong –hal 12-
Untuk diam lebih lama, saya tidak betah. Maka saya meninggalkan rumah berjalan perlahan ke arah March dengan haarapan melihat sesuatu di rumah Ny. Casper, atau paling tidak March masih buka. Seluruh rumah Ny. Casper gelap, lampu kecil dekat beranda juga tidak menyala. Tapi saya bisa mendengar suara lamat-lamat seseorang menangis di beranda. Tentu saja saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dan untuk memasuki pekarangan Ny. Casper saya tidak mempunyai alasan apa-apa kecuali ingin tahu. Kalau tohk saya masuk dan nanti terjadi apa-apa, mungkin alasan ingin tahu ini mungkin akan mempersulit saya sendiri. ­­-hal 13-
Kecemasan juga menimpa orang-orang Bloomington. Rasa itu dituangkan oleh penulis yang meraih gelar MA dan Ph. D di Universistas Indiana, Bloominton (universitas terbaik di Indiana yang banyak melahirkan musisi, penulis, aktor dunia), lewat cerpen berjudul Orez. Orez adalah nama anak berusia lima tahun yang memiliki kelainan pada tubuh dan mentalnya, karena keadaan Orez inilah tokoh utama sebagai ayah dan Hester Price sering pindah apartemen lantaran malu dan takut keberadaan Orez mengganggu ketentraman sekeliling mereka.

Alur dibuat mundur ke belakang, setelah di awal paragraf penulis memberikan sekelumit informasi mengenai sosok Orez. Dimulai dari Hester yang justru ketakutan ketika tokoh melamarnya. Alasannya tentu bukan karena tidak cinta melainkan karena merasa tidak pantas mendapatkan cinta  tokoh yang sangat baik hatinya. Perjuangan pun dimulai, untuk menentukan keseriusannya, tokoh mendatangi orang tua Hester dan mengatakan dengan tegas bahwa dia mencintai Hester dan siap menerima anaknya apa adanya, meski Stevick (ayah Hester) sudah menjelaskan rahasia kondisi Hester dan keluarga mereka dengan sangat gamblang.  

Makin seru nih! Hehe. Singkat cerita karena ceritanya sengaja disingkatin agar kalian nggak bosan, Guys...! tokoh saya dan Hester akhirnya menikah. Kehidupan mereka bahagia sampai akhirnya penuh drama setelah Hester hamil. Penyebab utamanya adalah terdapat kelainan dalam tubuh Hester.
Berkali-kali Hester memohon pada suaminya untuk membantunya menggugurkan kandungan di kehamilan berikutnya agar mereka tidak memiliki anak. Saya ngilu banget ngebayanginnya ketika Hester meminta suaminya menendang atau menginjak-injak perutnya agar janinnya meninggal. Gila! Memang dijelaskan kenapa dia bisa setega itu. Tapi, menggugurkan kandungan bukanlah satu-satunya solusi, kan?! Eh kok gue yang sewot. *tepok jidat.

Kemudian dia menggeret saya ke ruang tengah. Setelah mencopot sisa pakaiannya yang masih menutupi sebagian tubuhnya. Dia tiduran di lantai dengan perut yang dihadapkan ke arah saya. Kemudian dia mengeluarkan perintah supaya saya memperlakukan perutnya seperti bola soccer. –Hal 73-
Bagusnya, sang suami menolak. Lega lah dada akutu... huhu. Berasa nonton film base on true story nggak sih baca buku ini.

Kisah lain yang tak kalah menarik berjudul Ny. Elberhart. Di cerpen ini, tokoh aku diceritakan menjadi korban Ny. Elberhart yang aneh atas kekepoannya sendiri. Ny Elberhart adalah seorang nenek tua yang tinggal sendirian di rumah, kotor dan berantakan.
Sementara, cerpen Yorrict menceritakan perjuangan tokoh mencari perhatian seorang perempuan yang ditaksirnya. dengan cara yang bagaimana? Sudah pasti gigih, segigih Ken Arok mendapatkan Ken Dedes. He he he. Kenapa jadi nyasar ke Ken Arok sih?! *mikir  

Dari penjelasan itu, apakah kalian bisa menarik kesimpulan bagaimana dan seperti apa kehidupan orang-orang Bloomington? Kita diskusikan, yuk ... di komen aja. He he. Yang saya tangkap dari semua penyajian cerita Budi Darma, orang-orang Bloomington adalah orang dengan mamalia brain yang dominan.  Sehingga mereka sudi melakukan hal apapun meski merugikan orang lain bahkan termasuk tindakan kriminal, demi memenuhi  salah satu kebutuhan primer, kepuasan.

Di luar cerita, saya penasaran bagaimana dan seperti apa proses yang dilalui seorang guru besar Universitas Negeri Surabaya ini dalam penulisan kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington hingga menjadi sebuah buku yang mendapatkan penghargaan.

Kalimat pembuka yang selalu membuat saya ingin terus membacanya sampai tuntas, didukung dengan kekuatan karakter tokoh yang membuat saya geleng-geleng kepala akibat tercengang. Buset ni orang....! pantes bukunya dapat banyak penghargaan. Belum lagi, point of view orang pertama yang diambil benar-benar berhasil mengajak kita tamasya di taman imajinasi diri dengan sempurna. Bak juru masak profesional yang mampu meracik masakannya sehingga membuat penikmatnya terus melahap sajiannya sampai ludes, habis, bersih tak bersisa.

Meski memang kota Bloomington hanya berhasil digambarkan dengan baik lewat gedung-gedung apartemen Tulip Tree yang menjulang dan memiliki hamparan rumput luas dalam cerpen berjudul Charles Lebourne. Saya tidak sudi mengurangi nilai sempurna untuk buku ini . dan ingin sekali membaca karya-karya Budi Darma yang lain.

Akhir kata, saya ucapkan Terima kasih pada alam semesta yang mempertemukan saya pada buku ini dan untuk sesiapa yang sudi meluangkan waktunya membaca review ini. gracias mi amigos.