Monday, February 4, 2019

Review Film Pihu,

11:04 AM 2 Comments


Judul film        : Pihu
Pemain            : Pihu-Myra Vishwakarma
                          Pujaa-Prema Sharma
                          Gaurav-Rahul Bagga
Tahun              : 2018
Sutradara         : Vinod Kapri
                 

Saya tahu film Pihu yang diambil dari kisah nyata ini dari teman Komunitas Menulis yaitu One Day One Post, pada saat itu kami saling berbagi informasi mengenai film yang sudah kami tonton dan merekomendasikannya. Film judul Pihu cukup membuat saya penasaran setelah mendengar sedikit cerita salah satu dari kami.

Sejujurnya ... dari awal film ini diputar, saya berpikir film ini pas sekali ditonton bersama keluarga.

Scene demi scene yang dipertunjukan membuat saya seolah tidak sedang menonton film melainkan sebuah CCTV yang sengaja dipasang secara sembunyi di rumah, sangat natural.  Sang sutradara Vinod Kapri sukses membuat film aliran `One Man Film` ini menguras emosi. Bagaimana tidak? mulai dari balita berusia dua tahun itu bermain balon sendirian mengelilingi meja setrikaan tanpa mengerti ada setrikaan panas di atasnya  yang rentan terjatuh dan dapat memanggang kulitnya, diikuti dengan adegan Pihu yang mulai frustasi membangunkan ibunya yang terus tertidur karena ingin buang air kecil sampai bagaimana gadis kecil yang rambutnya mulai berantakan dan awut-awutan tersebut mencari makan saat perutnya lapar dengan mencoba menghangatkan rotinya di atas kompor yang dimain-mainkan apinya. Hingga pada menit terakhir pun itu ... saya dibuat tegang sekaligus penasaran bagaimana kelanjutan nasib Pihu nanti.

Adegan demi adegan menjadi sebuah klimaks yang sangat menegangkan seolah kita berada di tempat yang sama dengan Pihu yang diperankan dengan sempurna oleh Myra Vishwakarma

Tak hanya itu, kondisi Pihu  mengingatkan penonton bahwa anak-anak hanya tahu main dan berusaha menghibur dirinya juga memenuhi kebutuhannya dalam keadaan apapun tanpa  mengerti bahwa api, listrik dan ketinggian sangat berbahaya baginya karena otak anak-anak belum sampai pada tahap tersebut.

Jadi, apa yang semestinya kita lakukan sebagai orangtua atau orang yang dituakan ...?

                        

****

Sekarang mari kita melihat tokoh perempuan dewasa yang terlentang di atas tempat tidur. di kamar, Sebuah sikap yang membuat penonton mengira bahwa tokoh sedang tertidur pulas. Akan tetapi semua berubah setelah pada menit ke tiga puluh, Pujaa, wanita yang tertidur itu menuliskan pesan terakhirnya di kaca rias dengan lipstick untuk Gaurav suami yang sebelumnya mencacinya lewat telepon.

Gaurav, aku bertengkar dengan keluargaku demi menikahimu. Tapi apa yang kudapat darimu? Katamu, Kau akan pulang saat aku mati, Aku pamit.
Tadinya aku mau mengajak Pihu tapi tak kuasa. Sampai jumpa. Pujaa

Saya yakin semua setuju, Film Pihu yang diambil dari sebuah kisah nyata memang bukan film yang hanya layak untuk ditonton sebagai sebuah hiburan melainkan menjadi pembelajaran bagi setiap pasangan bahwa apapun konflik dalam rumah tangga, baiknya dibicarakan sampai tuntas bukan dibiarkan, alih-alih berusaha sabar tapi nyatanya ketidakselarasan yang dibiarkan dalam sebuah hubungan rumahtangga dapat mengakibatkan terjadinya hal yang sangat berbahaya, merugikan hubungan itu sendiri.

Banyak aspek yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah Pihu terutama psikologi. Manusia adalah makhluk social yang pada dasarnya saling membutuhkan, butuh diakui keberadaannya, diapresiasikan usahanya juga dicintai dalam segala kondisi. Apabila kebutuhan diatas tidak terpenuhi maka kemungkinan terbesar terjadinya depresi dalam diri semakin tinggi dan memicu terjadinya tindakan bunuh diri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tiap 40 detik seseorang berusaha untuk melakukan bunuh diri.  Angka tersebut setara dengan 800.000 juta jiwa setiap tahun yang kehilangan nyawa akibat bunuh diri. Laporan tersebut menunjukkan makin banyak orang yang berpikir melakukan tindakan bunuh diri dan salah satu pemicunya adalah depresi.

 "Orang yang depresi merasa tidak ada harapan akan kehidupan atau putus asa. Kondisi ini diikuti dengan gejala lain seperti susah konsentrasi, malas, tidak bertenaga, tidak nafsu makan, dan sering ada ide untuk bunuh diri," kata dr Andr Sp.KJ kepada Kompas.com.

Semoga lewat tayangnya film yang fenomenal ini kita semakin disadari bahwa depresi bukanlah hal yang bisa dihindari tapi dapat dihadapi karena pada dasarnya semua manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dari gejala apapun termasuk depresi dan untuk mengahadapinya butuh bantuan orang-orang sekitar.

Semoga bermanfaat.







referensi:
https://sains.kompas.com/read/2018/09/10/181029223/sering-jadi-pemicu-bunuh-diri-kenali-gejala-depresi-berikut


Wednesday, January 30, 2019

Review Novel Rest in Promise by Dymar Mahafa

11:16 PM 12 Comments

Kejutan Arum atau Juna


Review
Judul buku                   : Rest in Promise
Penulis                         : Dymar Mahava
Penerbit:                     : Nira Media
Tahun terbit                : 2018
Jumlah halaman         : 388 Halaman


           

Misteri kisah diawali dengan seorang perempuan muda yang berusaha untuk menutupi identitasnya saat berada public area. Tokoh yang pada lembaran pertama disebut Arum ini mencari buku berjudul Lukisan Sang Kupu-kupu karya Kaka Klavieri, di toko buku.

Lanjut bab berikutnya, ternyata Arum punya dua nama panggilan yaitu Sekar. Panggilan sayang dari penjaga kost, tempat Arum menetap.

Memasuki kisah Arum lebih dalam, terungkaplah dengan jelas bahwa Arum adalah juga seorang penulis yang sengaja menyamarkan idetitasnya karena suatu hal. Apakah yang dimaksud dengan `suatu hal` itu?

Membaca novel karya perempuan muda yang juga berprofesi Guru ini mengajak saya mundur, mengingat  kala masih menjadi mahasiswa jurusan Sastra Inggris dulu. Dalam mata kuliah Kajian Prosa, sebuah prosa modern (roman, novel, cerpen, essai, resensi) ada unsur intrinsik salah satunya adalah alur atau plot. Kisah Arum yang sengaja dibuat maju mundur untuk menambah ketegangan pembaca. Banyak memberikan foreshadowing (paparan, sebuah pengantar yang memberikan gambaran sekilas mengenai peristiwa yang akan terjad) di awal cerita, Salah duanya adalah

Tertulis sebaris judul Lukisan Sang di sampulnya yang bernuansa biru. Dipojok kanan atas tertulis sebaris nama, Kaka Klavieri. Seketika gadis itu tersenyum. Dia pergi setelah mengucapkan terima kasih kepada si petugas kasir yang sebelumnya telah meminta maaf kepadanya karena buku yang dicarinya gagal didapatkan. -halaman 11-

Arum melangkah riang keluar toko buku. Tetapi, ia berusaha menutupi kegembiraannya dengan bersikap biasa saja . Ia tidak suka meluap-luap atau menanggapi sesuatu secara berlebihan. -halaman 11-

Kata `seketika gadis itu tersenyum` dan `ia berusaha menutupi kegembiraannya dengan bersikap biasa saja` adalah sebuah foreshadowing, yang menggambarkan secara tersirat  bahwa ternyata Arum adalah seorang Kaka Klavieri, sang penulis terkenal yang identitasnya tidak ingin diketahui lantaran suatu hal yang akan dikupas tuntas di tengah dan akhir cerita.

`Suatu hal` itulah yang menjadi satu alasan sangat kuat saya (saya yakin menjadi alasan bagi pembaca yang lain juga) untuk terus membaca kisah Arum a.k.a Sekar sampai lembaran terakhir. Ditambah dengan adanya tokoh Juna yang sangat berpengaruh atas perjalanan hidup tokoh utama.

Apa yang terjadi dalam hidup tokoh Arum dan Juna?

Yang pasti, kisah kecil merekalah penyebab utama terciptanya judul Rest in Promise ini. Ada janji di antara Arum dan Juna  yang tercipta saat mereka  berusia 10 tahun. Janji yang sengaja ditulis kemudian ditaman dalam sebuah kotak di bawah pohon tempat biasa mereka bermain dahulu. Kemudian, diperkuat oleh dua kunci buatan Juna untuk dipegang oleh mereka dan menjadikannya sebuah liontin pada kalung yang dikenakan kedua tokoh yang juga membagikan impiannya hingga mereka dewasa.

Janji menjadi sesuatu yang sangat mengganggu pikiran ketika kedua orang yang saling berjanji terpisah karena suatu keadaan yang tak dapat dikendalikan, belum lagi konflik tak terduga lainnya yang membuat saya tercengang sekaligus tegang.

Akankah janji yang terpatri selama empat belas tahun tersebut dapat ditepati?

Kisah yang emosional terbukti membuat sebuah fiksi menjadi sangat addictif. Dan Sang Author Dymar Mahafa banyak menyuguhkan itu lewat konflik penuh emosional. Satu fakta terbongkar menimbulkan konflik baru yang mempertemukan sebuah  fakta lain lagi. Menarik, bukan?

Arum terisak dalam diam, batinnya mencelos ketika mengetahui bahwa sebenarnya Juna yang selama ini ia kenal tetangga sebelahnya dan Juna seorang direktur muda itu tak lain adalah Una teman masa kecilnya yang selama ini ia cari. -Hal 260-

"Mulai sekarang kamu nggak perlu lagi menemuiku, anggap saja Una sudah mati, dan biar saja semua janji yang pernah dia buat dulu ikut terkubur bersama jasadnya di dalam tanah. Aku minta pergilah menjauh, sejauh mungkin dari hadapanku dan kehidupanku. Selamanya.

Kalian tidak akan percaya kalau saya bilang konfliknya twisted, kan?! Padahal, masih banyak cerita emosional dalam novel drama thriller karya mbak hobby lukis ini, selain yang saya ceritain di atas.

Lalu, kenapa saya yakin bahwa kisah Arum dan Juna ini termasuk thriller? Karena di dalamnya, kalian tidak hanya hanyut dalam kepedihan Arum tapi juga tegang saat membaca bagian yang memacu adrenaline ketika tokoh saingan Juna dalam mencuri hati Arum tertusuk pisau saat berusaha menyelamatkan Arum dalam sebuah acara besar di kota hingga pingsan dan nyaris meninggal.

Bagi saya yang imajinatif ini, prosa berkualitas adalah karya yang mampu membangkitkan imajinasi dan merangsang otak hingga ide bertebaran di kepala. Novel Rest in Promise menambah rentetan buku berkualitas di rak buku saya yang sudah saya rekomendasikan pada kawan-kawan dan teman-teman yang mmbaca review ini tentunya. 

Teman-teman boleh langsung kepoin Instagramnya mbak Dymar Mahafa di @ard_augu atau facebooknya dymar mahafa

Thursday, November 8, 2018

History

1:07 PM 2 Comments







Kau adalah sebuah kenangan yang tak perlu dibuang sebab kau bukan sebuah barang.

Kau adalah pengalaman traumatis, tiada henti membuat hati meringis namun menyisakan sebuah pembelajaran, ilmu humanis.

Kau serupa pangeran kegelapan, kedatanganmu mengharukan. Kepergianmu membingungkan.

Cintamu bagai solusi ditengah konflik pelik. Kata-katamu bagai angin segar tengah matahari terik.

Saat  aku sedang kelut, akankah kau datang untuk memeluk?

Bogor, 20 agustus 2015

****


Bak!

Nada menutup buku merahnya, Menghempaskan napas panjang di atas kasur berselimut sprai jingga.. Menikmati sedikit ruang yang melebar, melesapkan sesak, meninggalkan penat. Dia pejamkan matanya dan mulai memperhatikan segala yang melenggak di hadapan. Hitam. Kelam. Hening. Suara gemerincing.pun tiada.

Perlahan, sosok Bumi yang selama ini mengisi harinya melebur terbawa angin bernama lepas. Lepas yang dipaksakan, pencipta bilur sekujur badan lewat deretan keintiman lalu. . 

Nada menyandarkan punggungnya di atas kasur. Membiarkan penglihatannya semakin kabur menuju gerbang mimpi yang melegakan napasnya berangsur-angsur. lega? Sementara ini, iya. 

Bibirnya mengucap lirih, sementara matanya dibiarkan terpejam saat wajah mengahadap langit-langit kamar.

"Sampai jumpa di kehidupan lain, meski cinta tak dapat tersalurkan, kuyakin hati kita akan selalu saling bertautan."



#fiksivinny
#story
#flahfiction




Tangerang, 8 November 2018

Friday, January 19, 2018

JakArta

2:25 PM 0 Comments



Dibelainya kerudung merah muda yang menempel di kepala, menutupi rambut dan menyisakan wajah. Bibirnya melebar, mata redupnya bersinar. 

Rasanya adem, ya Allah

Matanya bergerak menelusuri ujung kepala hingga kaki yang terpantul di kaca. Kemeja panjang kotak-kotak paduan biru, merah dan putih. Celana jeans biru dongker. 

Nggak macthing sih. Nggak apa-apa lah ... yang penting tertutup. 

Senyumnya mengembang lagi. Kali ini bibir bawahnya digigit pelan tanda memikirkan sesuatu. Matamya melirik nakas tempat tidur yang berada di sebelah kanannya. Ponselnya menyala dan bersuara. Suara khas tanda pesan masuk, berbunyi.

Kakinya pun melangkah mendekat tempat tidur guna meraih ponsel. Ibu jari bergerak lincah menyentuh layar. Munculnya nama seorang lelaki yang dikenal pada layar, membuatnya tersenyum malu, mengulum bibirnya sejenak dan menghempaskan napas panjang.

Kamu itu satu-satunya lelaki yang membuat aku gemas, kesal dan jatuh cinta dalam waktu yang bersamaan, Ka. Tapi ... 

Bibirnya tersipu malu ketika otaknya melang-lang buana ke negeri hayalan, membayangkan dirinya bersama lelaki pujaan berlarian mengelilingi taman bunga sakura yang hanya bermekaran seminggu di musim semi. Kupu-kupu terbang. Merah muda, putih, biru. Indah.

Ibu jarinya kembali bergerak lincah. Membalas pesan yang baru saja dibaca. 

Im waiting taxi. I'll text you when the taxi is come. 

Dua menit tak ada balasan, tanda pengirim pesan mengerti dan tidak keberatan. Semenit kemudian, pintu kamar berbunyi, ada yang mengetuk di baliknya. 

"Neng Arta, taksinya sudah datang." Ucap perempuan di balik pintu. 

"Iya, Bi ... suruh tunggu sebentar," jawabnya setengah berteriak dan melangkahkan kaki menuju pintu kamar.

Selangkah menuju pintu keluar, gadis bermata hazel itu melirik ke kiri, menghentikan langkahnya, memandangi dirinya di depan kaca lagi. Membentangkan kedua tangannya, menghempaskan napasnya perlahan. 

Bayangan wajah kekasihnya datang lagi. Ingatan saat mereka memandang kota Jogyakarta dari Tebing Breksi, mencoba belajar batik tulis dengan pengusaha batik  dekat alun-alun Jogyakarta, saat menemaninya mixing lagu di studio seharian. Semua berdatangan berputar mengelilingi kepalanya. Tak berhenti sampai di situ, wajah senyum bahagia kedua orangtua, menghantuinya. Semua perjuangan ayahnya pulang berjualan lontong sayur keliling kampung setiap pagi hingga siang dengan kaki lecet-lecet hingga akhirnya bisa memiliki restauran sendiri, membuka cabang di berbagai daerah. Kenangan ibunya yang berbaring lemah, wajah putih pucat dengan selang di tangannya akibat terlalu lelah. Sungguh, Arta punya berjuta alasan untuk berjuang menjadi penyebab kebahagiaan kedua orangtuanya. 

****

"Caribou ya, Pak." Ucapnya pada pak supir. 

Pak Supir menjawab, "iya, mbak," sambil menggerakan tangannya memutar kemudi. 

Tiga puluh menit perjalanan, taksi sampai di tempat tujuan. Mata Arta bergerak mengelilingi seluruh sudut kafe bergaya art minimalis itu. Kemeja yang dikenakan Jaka berwarna senada dengan dinding kafe, hitam, sehingga membuat perempuan bermata minus dua itu harus memicingkan mata untuk memastikannya.

Jaka meletakan siku tangan kanannya dibahu sofa kulit merah. Ibu jarinya mengelus dagu perlahan, otaknya berkeliaran tak tentu arah selama menunggu Arta. Dia sengaja datang limabelas menit lebih cepat dari waktu yang mereka tentukan. Matanya memandang kendaraan yang berlalu lalang dari balik dinding kafe yang terbuat dari kaca. 

Ragu-ragu Arta memanggil lelaki yang sudah menunggunya saat dia sudah berdiri di sampingnya, "Jaka." 

Mata Jaka sedikit membelalak seiring kepalanya bergerak mundur saat menyadari bahwa itu Arta.

Hanya tangan kanannya yang bergerak mengarah sofa di seberang mejanya mengisyaratkan agar gadis ambivert itu duduk di hadapannya dengan senyum datar penuh arti. Lelaki berkulit sawo matang itu gagu seketika.

Kedua insan saling diam. Mata Jaka bergerak dari ujung kanan ke kiri, berhenti pada dinding berhias figura putih bergambar cangkir kopi merah gaya retro.  

Arta pakai kerudung sekarang? Sejak kapan? Kok nggak bilang-bilang?

"Jaka"

"Arta"

Keduanya saling memanggil dalam waktu bersamaan. Mata mereka beradu saat menyadari saling memanggil satu sama lain, sama-sama menahan tawa, malu-malu. 

Kenapa jadi kikuk begini sih? Ayo lah ... Ka! Ngomong sesuatu! Basa-basi dulu, Lo kan paling jago menghangatkan suasana. Itu modal elo! Itu yang bikin perempuan klepek-klepek sama lo.

"Kamu duluan aja, Ta. Ladies first." Ucap Jaka, bibirnya dipaksa melebar menutupi ketegangannya. . 

Diam-diam Arta memperhatikan Jaka. Binar matanya, kakinya yang tak bisa diam. Pandangannya yang ke sana ke mari. 

Mungkin dia shock. Ganteng ya Jaka ...   Nggak nyangka pernah pacaran sama cowok ganteng. Hahaha. Duh ... eh tapi nggak boleh! Ingat Arta... jangan mau diperbudak oleh napsu! Kamu ke sini mau memutuskan hubungan ini, kecuali dia mau menikahimu. 

Otak Arta berlari berkeliaran, tersenyum malu-malu, berpikir keras, melirik kanan kiri kebingungan, kemudian teringat pada bacaan semalam, Ayat-Ayat Cinta 2,  karya Kang Abik, yang membuatnya semakin yakin untuk mengakhiri hubungan ini.

Jangan pernah berdamai dengan hawa napsu karena sekali kau berdamai, napsu akan menginjak harga dirimu dan menjajahmu. 

Setelah buku, ingatannya terjun bebas pada kuliah dhuha yang dia dengar tiga hari lalu di masjid Asy-syafi oleh ustad Abdul Khaidir. 

Ketika kita yakin bahwa perintah Allah itu sudah pasti benar. Tidak ada apapun yang bisa merubah ketetapan seseorang.

Godaan dan iman berkejaran, bertarung, sama-sama ingin menang. Godaan menghantam iman dengan kenikmatan cinta semu. Iman ambruk, terkulai lemah dan ... 

"Jaka. Apa kabar?" tanya Arta, suaranya terbata, canggung. Matanya langsung menatap ujung vas bunga berbentuk square hitam. 

Jaka mengangkat alisnya menahan tawa melihat Arta malu-malu seperti itu. "Aku baik. Kamu gimana?" 

Lucu banget sih ... aku kangen kamu, Ta ... Cuma kamu yang bisa bikin aku mati gaya, jatuh cinta dan kesal dalam waktu bersamaan. Kamu kenapa pakai kerudung sih? Sejak kapan? Apa karena kerudung kamu jadi menolak ajakan aku untuk ketemu selama sebulan ini? Hhh ...

Mata Jaka terus memperhatikan Arta, tanpa sadar kepalanya ikut bergerak miring ke kiri dan tidak berusaha menanyakan kenapa Arta masih belum juga menjawab pertanyaannya. Dia masih bingung. Antara rindu, kaget, senang dan amarah bercampur jadi satu.

Satu menit saling diam, alunan lagu Moonrise dari Zimmer pun tak mampu membuat kedua manusia ini bersikap santai seperti biasanya.  Lelaki yang dikenal sebagai disc jockey itu mulai gelisah. Dipanggilnya Arta sekali lagi,
"Ta ..."

"Iya, hmm ... sorry, aku ...," Arta mengulum bibirnya. Mengelurkan pertanyaan yang sebenarnya dia tak berminat untuk mengetahuinya. "Gimana kemarin event di Balinya?" 

"Seru, asyik, rame, coba kamu ikut." Jaka mengangkat alisnya, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi pada Arta. Senyum kesukaan Arta. 

Arta membalas senyumnya. 

"Ta ...," mata mereka saling beradu, namun Arta hanya mampu bertahan memandang Jaka sedetik dan kembali menatap ujung vas bunga. Lidah Jaka kaku, napasnya tertahan. Darah seolah mengalir derah di tubuhnya. "Ta ... kita putus aja ya, kamu kan sudah pakai kerudung. Nggak boleh pacaran, kan?!" 

Apa? Jadi aku diputusin? Serius? Beneran?? 

Napas Arta berhenti tiba-tiba. Wajahnya yang menunduk terangkat tanpa disadarinya. Dalam hitungan detik, Arta mencoba menggeledah jiwa Jaka  lewat mata coklat lelaki penyuka wall climbing itu
dengan mulut sedikit terbuka. Mata bulatnya berkedip-kedip, seketika.

Sementara lelaki ekstrovert itu tampak tenang walau keningnya berkerut menanti reaksi Arta.

Bissmillah. Bismillah. Ya Allah, bukankah tadi niatku memang memutuskan hubungan ini? Lalu sekarang, kenapa aku yang kaget setengah mati sampai rasanya mau lari dari sini?? Syukurin lo Ta! Syukurin. Malah lo kan yang diputusin! Baguslah, jadi nggak perlu menyakitkan hati Jaka, kan. Kan. Kan!?

Arta membuka mulutnya, hendak berbicara. Tapi tidak jadi, keterkejutannya ternyata kembali membekukan bibir mungilnya. 

Untuk menghilangkan ketegangan, Jaka menyesap americano tanpa gulanya. Sekali dua kali, matanya diam-diam melirik ke calon mantan kekasihnya. Dia yakin wanita penyuka pizza itu shock. Dua tahun bersama membuatnya dapat mendeteksi raut wajah Arta dan mengetahui apa yang ada di dalam otaknya. 

"Kamu itu manja tapi gengsinya guede, Ta!" Umpat Jaka dengan wajah dibuat-buat seolah marah, setahun yang lalu. Dan balasan Arta cuma mengerucutkan bibirnya. Lucu. Jaka gemas padanya. 

Kenapa jadi ingat yang dulu sih?! Come on, Ta ... say something. I miss you but I think we better break up now. I dont want to have any relationship with women who wearring hijab.

Jaka menghembuskan napas kencang. Mengulum bibirnya, memanggil wanita itu. "Ta ..." 

"Ka." 

Mata mereka beradu lagi, kali ini diselaraskan dengan tawa yang lebih lepas. 

"Yaudah kamu duluan, dari tadi kamu mau ngomong kayaknya susah banget." 

"Aku ... aku minta maaf. Sebulan ini aku jarang mau diajak ketemu. Aku ..." 

"Ta ... it's okay," potong Jaka, tangan kanannya meraih jemari kanan Arta yang terletak di meja. Matanya menatap Arta dengan takzim. "Aku duluan ya, nggak apa-apa kan?" 

Sial! Kenapa begini sih? Aku masih pengen ngobrol banyak sama kamu, Ta ... aku kangen! 

Arta menjawab dengan dua kali menganggukkan kepala, pelan. Jaka meraih cangkir kopi, menyesapnya sekali, kemudian bangkit.

"See u, Ta." 

Arta memandang Jaka yang semakin menjauh. Langkahnya cepat, kepala menunduk dan jemari kirinya dimasukan ke saku celananya. Kolaborasi gerakan memejamkan mata dan menghembuskan napas pelan berhasil membuatnya tenang. 

"Ini sakit, sakit. Dua tahun terbuang sia-sia" Arta menghempas napas perlahan, "terima kasih ya, Ka. Alhamdulillah ... terima kasih ya Allah." Lirih Arta bersenandika. 

Jaka duduk terdiam di bangku kemudi. Tangannya memegang setir dengan mata memandang lurus ke depan.  Satu menit terlewat tanpa gerakan. Tubuh dan otaknya tidak singkrong. Tak berapa lama, tangan kirinya meraih ponsel yang diletakan di bangku penumpang. Jarinya mengetik nama di kontak ponsel. Memencet tombol call

"Hi, Baby ... Im on my way to your apartement, ya. See u." 

-End-


Tangerang, 18 Januari 2018
Vinny Martina

#fiksivinny










Thursday, January 4, 2018

Mengenal Bangunan New York lewat Novel Ika Natassa

9:29 AM 22 Comments

Judul : The Architecture of Love
Penulis : Ika Natassa
Halaman 397
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sebenarnya apa sih yang membuat seorang penulis bisa selalu produktif begitu pun writter block

Well, novel karya Ika Natassa yang berjudul The Architecture of Love ini menceritakan kisah seorang penulis terkenal bernama Raia yang sedang mengalami writter block bertemu dengan seorang lelaki bernama River saat dia 'ngabur' ke New York untuk mencari ide. Enam puluh sembilan hari yang berjalan sia-sia akhirnya berlalu setelah Raia dan River berkeliling kota sejak jam 9.00 pagi hingga petang, mengunjungi gedung-gedung dan mendengarkan sejarah dibangunnya gedung tersebut dari River hampir setiap hari.

Raia penasaran dengan River karena pembawaannya yang cool, jarang bicara mengenai hal pribadi meski mereka hampir setiap hari bertemu, selama tiga bulan. Raia pun menganalogikan arsitek tampan itu dengan sebuah puzzle

River si laki-laki berkaus kaki hijau itu, seperti puzzle. Dulu, puzzle yang belum selesai kukerjakan selalu membuatku gergetan. Tapi, River tidak. He makes me happy even when he is incompleted. (Hal. 150)

Geniusnya Ika Natassa tidak hanya urusan bagaimana dia meramu cerita mainstreem menjadi bacaan yang penuh informasi edukasi, menambah wawasan pembaca, tapi juga piawai membuat tokoh seolah nyata. 

Dengan gaya bercerita khas. Alur maju mundur. Point of view orang pertama (Raiya dan River), orang ke 3. Saya yakin, novel ini bisa menghipnotis pembaca yang tidak memiliki hobby membaca buku setebal 300an jadi suka membaca a.k.a rela memakai waktu senggangnya untuk 'melahapnya' demi mengetahui apa yang akan terjadi pada kedua tokoh yang menggemaskan itu.

Sebuah keahlian yang patut saya contek dari seorang penulis sekaligus Banker ini. Tapi yang pasti dari gaya penulisannya yang saya sebut di atas, kewajiban saya adalah rajin membaca dan mencatat ilmu apapun yang saya dapat dari mana dan kapan saja untuk diselipkan dalam tulisan. 

Oke, kembali ke kisah Raia dan River. Kegalauan kedua insan ini semakin menjadi setelah River pulang ke Jakarta. Gimana Raia nggak galau? River menghilang tanpa kabar walau sebenarnya kakak dari Aga yang sebenarnya naksir Raia duluan ini juga galau. Galau berjama'ah deh jadinya. 

Tapi, karena si cool River yang mengalami trauma akibat kecelakan dan membuat Kiandra, istrinya meninggal itulah River jadi sangat berhati-hati pada perasaan yang bergejolak di hatinya yaitu Cinta. 

Sama-sama jatuh cinta, sama-sama menunggu, sama-sama diam. Jadilah membuat pembaca gergetan. Kenapa nggak ada yang ngomong sih?! Salah satu aja, gitu ... Saya yakin, pembaca pasti pinginnya Riverlah yang mengungkapkan cinta duluan kepada Raia karena sebenarnya diam-diam tokoh yang dibuat oleh Ika, sangat menyukai mie instan ini, pun memiliki trauma seperti River. 

Tapi, bukan Ika Natassa namanya kalau bikin kita tiba-tiba kehilangan mood membaca novelnya hingga tuntas gara-gara kisah Raia dan River aneh.

Seperti novel yang saya baca sebelumnya, Critical Eleven. Penulis yang hanya menulis di hari sabtu dan minggu ini selalu membuat ending terbuka, pembaca diajak berhayal akan seperti apa hubungan mereka nanti saat sudah bersama, akan ada konflik apa ya mereka? bisa sembuh dari trauma nggak ya si lelaki yang hobby makan popcorn ini? 

Setiap bangunan selalu punya cerita. Apartemen Aga di Manhattan tempat mereka digariskan bertemu. Kedai Kopi di West 59th street tempat mereka saling mengenal pertama kali. Dan toko buku ini. (Hal. 292)

Dari sekian banyak novel yang saya baca, Ika Natassa memang memiliki ciri khas yang sangat mudah dihapal. Buku ini rekomen sekali untuk dinikmati di waktu senggang. Jangan lupa bawa kamus ya ... atau kalau mau praktis download kamus di play store. Agak ribet ya... ha ha ha. Ya, everything needs an afford to get it, right? 

Selamat menikmati 


Salam odop! 
Verba volant scripta manent
Vinny Martina


4 januari 2018

#onedayonepost
#vinnyreview
#vinnysdiary